Minggu, 23 Maret 2014

MENJAJAKI PESONA ALAM WADI HADHRAMAUT ;BUGSHAN Adventure in Serial



       Berawal dari obrolan ringan di whatsapp, akhirnya kami putuskan untuk berangkat ke wadi Do'an, tujuan kami adalah kawasan puncak Bugshan. Pasalnya, pemandangan alam wadi Do’an yang khas, menjadi gaya tarik tersendiri diantara wadi-wadi lain di Hadhramaut. Disamping juga buminya para wali dan salafussalihin, wadi Do’an juga dikenal dengan sebutan Arabia Paradise. Oase wadi Do’an yang khas, pepohonan kurma yang tingginya hampir tiga kali lipat dari jenis kurma biasa, tanah hijau yang subur, dan gaya rumah penduduk unik yang seperti pahatan gedung di kaki gunung, menjadi magnet bagi para pendatang khususnya para pelancong asing. Tidak hanya itu saja, salah satu penghasilan paling terkenal dari wadi ini adalah dari madunya. Kualitas madu Do’an sudah tak diragukan lagi keunggulannya di kancah dunia. Tak heran, jika harga satu kilogram-nya bisa mencapai $100.


Meski tak satu pun diantara kami yang tahu arah jalan, tak peduli siapapun orangnya; orang tua, anak kecil, anak muda, penjual toko, penjaga masjid, sampai pelayan pom bensin pun tak segan-segan kami tanyai. Yang menjadi kendala bukan jaraknya yang jauh, tapi mobil sedan sewaan yang kami pakai. Perihal banyak polisi tidur dengan ketinggian diatas normal, mobil sedan yang kami pakai sesekali berjalan sangat lambat jika ingin melewatinya. Tidak hanya satu, bahkan kami pun tak sempat menghitung berapa banyak jumlahnya. Terkadang, beberapa diantara kami harus rela turun karena takut akan merusak bagian bawah mobil. Tidak jarang terdengar suara benturan antara aspal dan bagian bawah mobil. Tidak hanya dari dalam, orang-orang sekitar kami pun juga ikut mendengar.


Sebelum sampai ke wadi Do’an, terlebih dulu kami melewati kota Syibam. Kota yang dikenal dengan sebutan Manhattan of Dessert ini, merupakan kota tua yang sudah ada sejak lebih dari 5 abad yang lalu.  Kota Syibam juga masuk dalam daftar warisan pusaka dunia oleh UNESCO. Bentuk kota ini sangatlah unik. Terdiri dari rumah penduduk yang berbentuk seperti kumpulan gedung pencakar langit yang menjulang, pagar benteng yang mengelilingi kota, gerbang masuk utama menuju jantung kota, dan saluran air yang mampu mengalirkan air dalam skala yang besar sewaktu hujan turun. Dan yang lebih menariknya, kesemuanya itu terbuat dari tanah, tiangnya dari batang pohon kurma dan atapnya dari ranting kurma dan pohon bidara.



Tidak jauh dari wadi Do’an, sebelum kami sampai, terlebih dulu kami harus melewati Al Hajarein. Kota yang akan selalu memikat siapa saja yang melihatnya. Al Hajarein merupakan salah satu kota tua di Hadhramaut. Pemandangan kota yang tak kalah menariknya dengan kota Syibam dan kota lainnya. Kami pun tak sabar bergegas turun dari mobil untuk mengabadikan kenangan dengan foto bersama. Dari Al Hajarein inilah, Umru Al Qaes dilahirkan. Seorang raja penyair Arab yang sangat masyhur dan kondang, siapa yang tak mengenalnya?
Meski begitu lamanya kami di jalan, kami pun tak sempat berhenti hanya untuk makan siang. Rasa capek, letih, lesu , lapar serasa hilang ketika kami akhirnya sampai di wadi Do’an sebelum akhirnya sampai juga di puncak Bugshan. Tak terasa, akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan. Sudah 5 jam lebih, waktu kami habiskan di jalan. Padahal, umumnya jarak sejauh ini bisa ditempuh hanya dalam waktu kurang dari 3 jam perjalanan saja.
Dari atas puncak, terlihat pemandangan alam di sekitar kawasan kheilah Bugshan. Pemandangan alam yang sangat mengagumkan. Melihat rumah-rumah tanah yang masih kokoh berdiri di atas bukit kecil dipinggir mulut wadi. Seolah rumah-rumah itu menjadi satu dengan bukit, menyerupai pahatan batu di kaki wadi. Ditengah-tengah wadi, tumbuh hijau-hijauan pohon kurma dan diantara pepohonan itu terlihat jalan aliran air yang mengering yang ditandai dengan kumpulan batuan kerikil putih. Jika dilihat dari atas, batu-batu itu membentuk pola yang sangat menarik. Menyerupài garisan putih bercorak kehijauan seakan menyisir dan membelah perut wadi.

Tidak sampai disitu, begitu kami sampai, cuaca berubah menjadi mendung gelap, angin sepoi-sepoi berubah jadi kencang, tanda hujan mau turun. Dan akhirnya, beberapa menit kemudian turunlah hujan. Dari atas, dari kejauhan terlihat arah datangnya air hujan. Sampai air turun ke perut wadi dan mengalir diantara hijauan pohon kurma. Batu-batu yang tadinya terlihat putih mengkilap, berubah menjadi putih kecoklatan. Warna bukit dan rumah-rumah yang tadinya terlihat kering kecoklatan, berubah jadi basah kehitam-hitaman. Lubang-lubang tanah yang tadinya terlihat curam menganga, kini terisi dengan air segar. Hujan yang cukup lebat membasahi kawasan wadi dan perbukitan. Menyaksikan kejadian alam ini, seakan-akan kedatangan kami disambut ramah oleh alam.


Sudah bukan hal baru lagi, jika sudah turun hujan, jalan penghubung antar lembah wadi yang satu dengan yang lain pasti akan terputus. Aliran arus air yang deras, seakan menghentikan aktivitas para pengguna sarana transportasi darat. Hingga air hujan dan batu-batu yang ikut terseret berubah surut. Namun, hal ini bukan lagi menjadi masalah bagi masyarakat wadi Do'an. Justru di saat momen seperti inilah mereka merasa terhibur dan bersyukur. Tanah yang tadinya kering disaat musim dingin, kini berubah jadi gambut dan berair. Air guna menyirami sawah dan pepohonan yang tadinya susah payah menggali sumur dan membeli diesel, kini jadi melimpah. Maka tak heran, ketika hujan reda, banyak orang-orang yang datang berbondong-bondong ke perut wadi guna mencuci karpet rumah, mobil, motor dan sesekali terlihat banyak anak kecil bermain air dan mandi disana. 



Jika dilihat dari bawah sana, disaat hujan turun, akan terlihat seperti air terjun raksasa. Karena pada hakikatnya, geomorfologi wadi Do'an khususnya, dan wadi Hadramaut umumnya, adalah sebuah tanah berbatu yang terpisah membentuk seperti retakan besar dan curam. Dan luas retakan itu sampai bisa dihuni oleh rumah-rumah penduduk dan ditumbuhi pepohonan dan cocok untuk kawasan pertanian. Jika naik ke atas, yang terlihat bukan puncak yang mengerucut, namun hamparan tanah tandus nan datar, luasnya tak kurang lebih dari luas permukaan bawah.
Subhanallah.. Maha Suci Allah, Pencipta langit, bumi dan seisinya.

            Hujan turun sangat deras, sejak jam lima sore tadi hingga menjelang malam hari. Jalanan putus, deras arus air yang memotong jalan tak mungkin surut di malam hari. Karena tak memungkinkan untuk pulang, kami akhirnya bergegas menuju ke sebuah penginapan. Di kawasan bugshan, ada dua macam penginapan. Pertama, letaknya di bawah, tepatnya ada di dekat istana (Qashr) Bugshan, dan yang kedua ada di atas wadi. Karena kebetulan posisi kami ada di atas, dan rasanya kondisi jalanan yang lincin tidak mengizinkan kami untuk turun, akhirnya kami pilih penginapan yang ada di atas. Setelah dapat kamar, kami bergegas menurunkan perkakas dapur dan perbekalan makanan yang sudah kami siapkan sebelum naik ke atas. Karena kami berangkat mendadak, persiapan kurang lengkap. Terpaksa harus pinjam alat-alat dapur dan meminimalisir pemakaian. Karena, bila sudah berada di atas, tak mudah bagi kami menemukan pasar, tempat pengisian bensin, toko, bahkan warung. Jarang sekali ditemukan kehidupan di atas wadi. Jika ingin membeli bahan makanan, kami harus terlebih dahulu turun.

            Bunyi rintik hujan diiringi suara angina sepoi-sepoi semakin lama semakin surut, lain halnya dengan perut kami yang dari tadi makin lama makin berdentuman. Wajar, jikalau dari tadi siang kami tak sempat rehat untuk makan siang di jalan. Bahkan, saya sendiri tak sempat sarapan. Alhamdulillah, untungnya pagi tadi saya sempatkan untuk makan biskuit dan minum susu sapi segar. Meski lapar, namun tak seberapa. Tapi, saya lebih bersyukur lagi karena tidak ada dari kami yang saling menyalahkan. Semua saling bahu membahu. Susah-senang, gembira-derita perjalanan ini kami rasakan bersama-sama.

Malam itu, menu makanan yang kami masak sangatlah sederhana. Tanpa lama menunggu, akhirnya selesai juga pekerjaan masak-memasak. Ditemani ringkikan suara jangkrik dan rintikan hujan yang saling berirama, kami makan satu nampan di teras kamar. Hembusan angin semilir menambah ketenangan suasana. Angin mengalir dari luar teras menuju bilik kamar. Jendela dan pintu kami biarkan terbuka. Korden kamar yang tergantung dibalik pintu dibiarkan terurai berombak. Dan Alhamdulillah, sebelum hujan reda, kami sudah terlebih dahulu selesai makan. Dalam hati saya bergumam, “Wajar saja, karena kami semua memang sama laparnya, hehe”.


Me on gallery :








                        

0 comments:

Posting Komentar

 
;