Rabu, 13 Juni 2012

Jaminan Allah SWT Terhadap Keorisinilan Al-Quran



Al-Quran adalah kitab suci terakhir yang diturunkan oleh Allah SWT. Cakupannya meliputi seluruh aspek kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Karena al-Quran diturunkan paling akhir, maka bukanlah  sesuatu yang aneh jika di dalam al-Quran terdapat kritikan tentang keorisinilan kitab-kitab suci yang telah diturunkan sebelumnya. Sudah sangat wajar bila informasi tersebut tertera didalamnya. Terlebih semua informasi yang terdapat didalamnya harus kita yakini kebenarannya karena setelah al-Quran tidak ada kitab suci lagi yang akan turun guna merevisinya. Oleh karena itu, tidak dibenarkan orang yang mengatakan bahwa kritikan tersebut hanyalah kebetulan.
Keyakinan kita sebagai umat islam terhadap keorisinilan kitab suci al-Quran harus tetap dijaga, kendati demikian karena Allah SWT telah berfirman :
(إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون)
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. Al-Hijr:9)
Maka, segala bentuk usaha untuk melestarikan atau memelihara keorisinilannya harus tetap dipertahankan, baik dengan cara menghafalnya maupun mengajarkan makna yang terkandung di dalamnya, dan tentunya harus sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh baginda rasulullah saw turun temurun hingga sampai ke diri kita.
            Seandainya orang-orang merenungi keistimewaan umat ini dimana Allah SWT telah menjadikan hati ulama mereka sebagai sebab dalam penjagaan ayat-ayat Allah SWT yang jelas, niscaya mereka akan mengetahui betapa mulianya para penghafal kitabullah ini.
            Bahkan lebih mengherankan lagi, bahwa terdapat banyak penghafal-penghafal al-Quran, padahal mereka tidak dapat berbahasa Arab, namun lisan mereka sangatlah fasih melantunkan kalamullah tersebut, sebagaimana sering kita saksikan. Maka dari itu, Allah tidak memilah-milah mana orang arab atau yang pandai berbahasa Arab dan mana yang nonarab. Siapa yang hendak menjaganya dan berusaha mengahafalnya, maka Allah SWT pasti akan menganugerahkan mandat agung ini. Dan barangsiapa yang melalaikan tugas mulia ini, maka Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan orang-orang yang telah bersusah payah mengemban amanat agung ini sebagaimana firman Allah yang berbunyi:
(ولقد يسرنا القرآن للذكر فهل من مدكر )
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambilpelajaran.” (QS. Al-Qamar:17)
Kata (للذكر)  yang berarti untuk mengingat, menghafal, dan memahaminya.
            Sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Dr. Yahya Abdul Razak Ghautsani dalam buku fenomenalnya yang berjudul  “Kaifa Tahfazhul Quran”, bahwa ada lima fase penjagaan Allah SWT terhadap keorisinilan al-Quran :
Fase Pertama : Allah menjaga al-Quran di Lauh Mahfudh.
Firman Allah yang berbunyi :
(بل هو قرآن مجيد * في لوح محفوظ )
“Bahkan (yang didustakanmereka itu) ialah al-Quran yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh.” (QS. Al-Buruj: 21-22)
menunjukkan bahwa sesunnguhnya al-Quran telah ada dan kekal terjaga di Lauhul Mahfuzh.
 Terdapat perbedaan diantara ulama ahli Qiraatn dalam membaca lafadh (محفوظ) , yang berarti terjaga. Ada dua pendapat, pendapat pertama adalah membacanya dengan kasrohtain atau dibaca khafadl (kasrah) (محفوظ ٍ) mahfuudzin. Sedangkan pendapat yang kedua, membacanya dengan dhommatain atau dibaca rafa’ (محفوظ ٌ ) mahfuudzun . Bila kita membacanya mengikuti pendapat yang pertama, maka kata (محفوظ ) “yang terjaga” menduduki sifat dari kata “Lauh” yang berarti papan yang terjaga. Keterangan ini, menjelaskan bahwa tulisan yang terkandung dan tertoreh pada lembaran ini adalah tulisan yang terjaga. Namun, bila kita membacanya rafa’, maka kata (محفوظ  ) “yang terjaga” adalah sifat dari kata “Quran” yang dibaca rafa’ juga. Keterangan ini menjelaskan bahwa al-Quran juga dijaga di lembaran tersebut (al-Lauh). 
Fase Kedua : Allah menjaga al-Quran ketika diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.
Sebagaimana Firman Allah yang berbunyi :
( عالم الغيب فلا يظهر على غيبه أحدا * إلا من ارتضى من رسول فإنه يسلك من بين يديه ومن خلفه رصدا * )
“(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS. Al-Jinn: 26-27).
            Yang dimaksud ayat ini adalah Jibril as. Turun dengan membawa al-Quran dan ikut bersamanya beberapa malaikat dalam rangka menjaga al-Quran yang dibawanya, para malaikat ini juga menjaga di sekeliling Rasulullah saw., di muka maupun dibelakangnya. Keterangan ini
dijelaskan dalam riwayat Sa’id ibn Jubair. Al Dhahhak dan lainnya.
Fase Ketiga : Allah SWT menjaga al-Quran di dalam hati Nabi Muhammad saw. Dan menghimpunnya di dadanya yang mulia.
Berpijak pada firman Allah SWT yang berbunyi :
( لا تحرك به لسانك لتعجل به * إن علينا جمعه وقرءانه * فإذا قرأناه فاتبع قرءانه * ثم إن علينا بيانه * )
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk ( membaca ) al-Quran karena hendak cepat-cepat ( menguasai ) nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya ( di dadamu ) dan ( membuatmu pandai ) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (QS. Al-Qiyamah: 16-19).
( كذلك لنثبت به فؤادك ورتلناه ترتيلا * )
… demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil ( teratur dan benar ). “ (QS. Al-Furqan:32)
Fase Keempat : Allah menjaga al-Quran ketika Nabi Muhammad saw. Menyampaikan dan membacakannya kepada umatnya dengan tanpa adanya campur tangan di dalamnya ataupun kesulitan ketika menyampaikannya.
Allah SWT berfirman :
( ولقد وصلنا لهم القول لعلهم يتذكرون * )
Dan sesungguhnya Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (al-Quran) kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran.” (QS. Al-Qashash: 51)
( يا أيها الرسول بلغ ما أنزل إليك من ربك ، وإن لم تفعل فما بلغت رسالته * )
“Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya…” (QS. Al-Maidah: 67).
Ayat ini menjelaskan bahwa diantara syarat kenabian Muhammad saw. Adalah menyampaikan al-Quran secara lengkap dan utuh.
Allah SWT berfirman :
( وما ينطق عن الهوى * إن هو إلا وحي يوحى * )
“ … dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. Al-Najm: 3-4).
(كما أرسلنا فيكم رسولا منكم يتلوا عليكم ءاياتنا ويزكيكم ويعلمكم الكتاب والحكمة * )
” Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah …” (QS. Al-Baqarah: 151).
            Ayat-ayat diatas menunjukkan secara pasti bahwa nabi Muhammad saw. Telah menyampaikan al-Quran sebagaimana ia diturunkan, beliau tidak mengurangi ataupun menambahkan satu hurufpun. Inilah yang wajib diyakini oleh setiap muslim.

Fase Kelima : Allah menjaga al-Quran setelah Nabi menyampaikannya dan ia tetap terjaga dan terpelihara hingga hari kiamat.
Berpijak pada firman Allah SWT yang berbunyi :
( إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون )
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar yang menjaganya.”  (QS. Al-Hijr: 9). Terdapat tiga konsekwensi dari penjagaan ini, yaitu :
1.      Menjaga huruf-huruf dan kata-katanya secara lengkap berdasarkan teks-teksnya yang telah diturunkan kepada Rasulullah saw. Dan meriwayatkannya secara berkesinambungan (tawatur) dan pasti hingga hari kiamat.
2.      Menjaga keterangan yang terkandung di dalam al-Quran, yaitu melalui hadis nabawi.
3.      Menjaga para penghafal al-Quran dan melestarikan orang yang menyampaikan nya hingga dating keputusan Allah SWT (hari kiamat). Hal ini terbukti bahwa Allah telah memilih hamba-hambaNya untuk membawa kitabNya ini tetap terjaga di hati mereka dan memantapkannya secara tartil sebagaimana ia diturunkan.
Oleh karena itulah, hendaklah orang-orang yang menghafal al-Quran ini merasa gembira akan keistimewaan yang Allah SWT berikan kepada mereka. Hendaklah mereka mengetahui betapa besar amanat yang mereka emban dan hendaklah mereka tetap berada di atas tanggung jawab ini.
-Wallahu A’lam-
Semoga bermanfaat !!

1 comments:

Idul F. Lampai At Taliyaby mengatakan...

bismillah Akh.. bagus templatenya, berbentuk binder/ gimana buatnya? atau beli template seperti ini.

ana suka dan pingin template seperti ini, gimana cara dapatkan template seperti ini. tolong kirimkan di idullampai@yahoo.co.id

Posting Komentar

 
;