Senin, 02 April 2012

Pagi Yang Cerah


Pagiku cerah bila ku pergi ke dapur kuliah lalu sarapan. Meski yang aku makan disana nanti hanyalah sepotong roti dan keju,entah apa yang membuatku bersemangat. Perasaankulah yang lapar dengan suasana, suasana yang nantinya dapat kukenang sepanjang masa.Untuk kuceritakan nanti di masa tua penuh kekeringan. Hanya usaha dan jerih payahku di saat ini yang dapat membasahinya.
Sambil duduk melingkar bersama teman-teman, ditengah-tenagahnya segelas susu hangat kita minum bersama-sama. Senang sekali rasanya. Pagi yang benar-benar cerah, secerah mentari menerangi bumi pertiwi ini.
Dalam kehidupan banyak sekali kesempatan. Kesempatan it kadang berhalangan datang untuk yang kedua kali. Pagi ini adalah kesempatan untuk sejenak berimajinasi. Berfikir tentang hal yang biasanya datang secara tiba-tiba. Semacam lintasan petir yang cepat datang dan cepat pula menghilang. Jika boleh aku menyebutnya, aku sebut ini adalah wahyu. Ya, imajinasi itu terkadang manis tuk didengar, indah tuk diungkapkan. Tapi, apalah daya bila tak secepat kilat pula kita mengikatnya dengan sebuah pena dan kertas. Kadang pula imajinasi itu kotor menjijikkan. Mungkin yang kedua ini adlah bisikan nafsu dan setan. Tak akan pernah melintas dalam pikiranku bahwa silsih bergantinya alam semesta, dari siang kembali malam, dari duduk kemudian berjalan kembali lagi duduk. Itu semua secara spontan memberitahukanku akan arti perubahan. Pagi memberitakan akan adanya siang. Pagi memberi isyarat akan datangnya siang. Pagi mengenalkanku siapa itu siang.
Dalam lima menit, roti berselaikan keju sudah kulahap habis. Cepat sekali aku memakannya. Entah menu sarapannya yang sedikit ataukah aku yang memang sedang bersemangat. Menurutku ini hal yang wajar. Karena roti panjang kurus yang hanya berukuran panjang satu jengkal setengah ini dihabiskan dalam waktu lima menit. Durasi pendek yang cukup melatih perutku untuk terbiasa bersikap menerima. Wah, rasanya ini kewajaran. Apalagi sesekali aku mendorong lidah melicinkan permukaannya dengan meneguk susu, satu sampai tiga kali tegukan. Semacam pelumas yang bekerja menjaga kestabilan panas mesin. Seusai roti kulahap habis, giliran aku bermain-main kata, memulai paragraf baru dalam sebuah percakapan. Meski sudah kumulai saat pertama aku duduk. Namun, rasanya tak sempurna bila lorong tenggorokanku sedang berdatangan berjubel-jubel tamu makanan. Sebaiknya aku lebih memilih mengalah, membiarkan dulu sejenak, tenggorokanku ini sedang asyik bersalaman menyambut tamu-tamunya. Percakapan telah dimulai. Saatnya aku menggali jurang-jurang kosong untuk aku isi dengan hasil buruan ilmu. Saatnya aku memasang panel-panel surya untuk aku simpan didalamnya sejuta energi ilmu yang nantinya akan aku manfaatkan. Saatnya Bergerak !!

0 comments:

Posting Komentar

 
;